Entah apa yang aku rasakan saat ini. Entah harus memulai
dari mana untuk menumpahkan segala bentuk perasaan pada sebuah tulisan,
sedangkan aku sudah lama tak menulis.
Malam ini, di kamar baru ini, pikiranku bercabang. Banyak hal
yang aku pikirkan pada satu otak di kepalaku. Tentang kamu, tentang dia,
tentang mereka, tentangku dan banyak hal lainnya yang aku pikirkan dalam satu
waktu.
Aku rasanya ingin menyerah padamu. Lelah. Aku memang lemah. Maaf
jika aku tak seteguh namaku. Aku rasa ini sudah melewati batas kesabaranku. Aku
lelah dengan segala sikapnya yang hingga kini entah mengapa tak mengizinkan
kita. Malah terus menekanmu untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Aku tahu
kau tak ingin, aku tahu kau mencintaiku. Begitu pun aku. Tapi kesakitanku
rupanya lebih besar daripada rasa cintaku. Aku pun sebenarnya tak tahu apa yang
harus kulakukan. Bertahan atau meninggalkan? Pada akhirnya aku terkesan
menggantungkan. Aku mencintaimu, tapi tak begini, sayang.
Maaf, aku tak bercerita tentangmu soal dirinya. Sesekali aku
pernah menceritakannya, tapi sepertinya kau tak bertanya lebih jauh. Dia,
seorang teman yang kukenal lewat jejaring sosial. Dia orang yang seru, lucu, humble. Tenang saja, dia seorang laki-laki,
sebaya denganku. Dia menjadi teman berbagi cerita jarak jauh. Aku terkadang
bercerita tentangmu, tentang hari-hariku. Aku pun sempat berniat mengunjunginya,
tapi hingga kini aku masih berhutang janji padanya. Selain itu aku memang
tertarik sekali dengan Bandung, dengan berbagai tempat wisata di sana yang
sering kujelajahi lewat internet, dengan perjalanan seorang backpacker yang ingin sekali kucoba.
Cukup, tak ada dia yang lain.
Mereka. Orang-orang yang kusayangi selain dirimu, sahabat-sahabatku.
Mereka memiliki kadar kasih sayang yang berbeda dengan dirimu. Aku masih
mengingatnya, ketika aku dan kau bertengar hebat karena salah seorang
sahabatmu, aku berulang kali menyalahkannya, menyudutkannya, hanya berharap dia
meminta maaf. Tapi tidak. Dan kau sama sekali tak marah kepadanya. Aku tahu,
kau dengannya bersahabat sangat baik. Seseorang yang kau cintai pun kalah oleh
sahabatmu. Sebesar itu pula rasa sayangku kepada mereka, sahabat-sahabatku. Aku
menyayangi mereka lebih besar daripada rasa sayangku padamu. Maaf, tapi aku
merasa tak pernah menjadi diriku seutuhnya ketika bersamamu, sangat berbanding
terbalik ketika aku sedang bersama sahabat-sahabatku. Ada apa denganku? Aku tak
tahu.
Kini giliranku mempersoalkan diriku sendiri. Apalah aku,
seorang lelaki biasa. Ayahku hanya seorang karyawan di sebuah kantor kecil, ibuku
hanya mengurus rumah tangga, sambil menambah-nambah penghasilan ayahku lewat
penganan ringan yang dibuatnya untuk dijual di kantor ayah. Sungguh sebuah
keluarga sederhana yang sudah cukup membuatku bahagia. Ditambah lagi dengan
kehadiran kedua adikku yang sifatnya berbeda-beda, menambah warna-warni di
rumahku yang bercat hijau muda.
Untuk ke kampus atau bepergian ke mana pun, sekarang aku
menggunakan angkutan umum. Terdengar aneh untuk seorang anak lelaki menaiki
angkutan umum, padahal tidak ada yang aneh selama kita masih bisa bersyukur. Banyak
pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kehilangan. Kehilangan sepeda motor
yang sudah lima tahun menemaniku rasanya memang cukup menyesakkan dada, tapi
ibuku mampu menguatkanku malam itu. Begitu pun dengan ayah, menasehatiku tanpa
ada nada tinggi sedikitpun. Terima kasih Allah telah memberikanku kedua
orangtua paling hebat di dunia. Entah bagaimana caraku membalasnya. Aku hanya
bisa belajar, sungguh-sungguh menjalani kuliahku, kegiatanku, menunjukkan
prestasiku, semata-mata hanya ingin membahagiakan mereka.
Kini aku tinggal di rumah kakak dari ibuku, atau bisa
dibilang “uwa”. Banyak faktor yang mendukungku untuk tinggal di sini. Pertama,
agar jarak ke kampusku lebih dekat, sehingga bisa meminimalisir pengeluaran. Kedua,
aku ingin lebih mandiri, ingin belajar jauh dari orangtua. Ketiga, adik-adikku
sudah beranjak besar, sedangkan kami bertiga tidur di dalam satu kamar karena
tak ada kamar lain yang tersisa. Maka di sinilah aku, memiliki kamar sendiri,
tidur sendiri, berusaha bangun pagi sendiri. Kebetulan sepupu-sepupuku sudah
menikah dan memiliki rumah sendiri, jadi aku di sini sambil menemani uwaku.
Ya, aku memang lelaki biasa yang teramat sederhana. Masihkan
kau mencintaiku dengan segala kekuranganku?